MENGEJAR MIMPI 1

December 15, 2009


Adakah kamu bermimpi untuk menjadi ini dan itu pada saat sekolah dahulu? Ini adalah pengalamanku pada saat pertamakali di daftarkan masuk sekolah dasar negeri (Inpres). Pada saat itu, pak kepala sekolah menanyakan kepadaku “Adik! Sudah mau sekolah ya? “Ya” jawabku dengan mantap. Karena memang aku senang sekali dan kupikir bisa main2 dengan teman2 sepuasnya. Kepala sekolah menanyaiku lagi “Adik berarti sudah besar, ya? “Ya” jababku lagi. Kemudian dia memintaku untuk memegang telinga kiriku dengan tangan kananku “Kalau sudah besar coba pegang telinga kiri dengan tangan kanan”, sambil memberikan contoh bagaimana aku harus melakukan itu. Tradisi memegang telinga untuk melihat kedewasaan anak2 untuk bisa sekolah adalah jamak dilakukan pada saat itu. Memang kedengaran lucu untuk era sekarang, tapi begitulah zaman itu. Dan pada saat itu pula kepala sekolah itu bertanya lagi kepadaku: “Adik cita-citanya ingin jadi apa”? Aku menengok kekiri dan kekanan terutama pada muka orang yang mengantarku saat itu. Setelah kupastikan bahwa aku mendapatkan restu dari anggukan kepalanya, aku jawab pertanyaan kepala sekolah itu “tentara”, pak!. Kata tentara mengiang dalam kepalaku saat itu, karena sosok tentara sangat hero dan senantiasa berjuang tanpa takut mati. Tentara adalah idola bagi siapa saja termasuk orang tua, remaja, para  gadis dan siapa saja cinta yang namanya tentara. Itulah cita2 pertamaku dahulu pada saat masuk SD, suatu cita2  menjadi hero seperti pada film2 perang kemerdekaan di TVRI.

Pada saat sekolah di MTs (SLTP), aku berhayal dan bermimpi untuk bisa belajar keluar negeri. Dan mimpi itu semakin kuat ketika ada informasi bahwa anak2 yang bisa masuk ke MAPK mempunyai kans besar untuk kuliah di Negeri orang. Aku semakin bersemangat untuk belajar, dan ingin meraih beasiswa lanjut ke MAPK. Dan ajaibnya, aku bisa lulus masuk MAPK, sekolahan yang sedang naik daun dan bergengsi karena sponsor utamanya adalah UNDP.Keajaban! ku katakan, karena sekolah MTSku adalah sekolahan yang tidak terkenal bahkan untuk level kecamatan sekalipun, sangat kecil, miskin sarana, gurunya tidak banyak dan mereka rela tidak gajian, dan temanku di sekolah tersebut hanya sebelas orang saja.

Dibawah keprihatinan tersebut tidak mengurangiku untuk bersemangat belajar dan tidak pula menghentikan mimpiku untuk bisa lanjut sekolah yang tinggi. Semangat yang menggebu dan bergejolak ternyata di dengar oleh yang maha kuasa. Allah mendengar do’a2ku yang senantiasa kupanjatkan tiap hari. Allah begitu pethatian dengan semangat, mimpi dan cita2ku. Sehingga Dia memberikan jalan dan pintu bagiku untuk  bisa masuk ke sekolah yang bergengsi. Ini adalah suatu berkah dan rejeki yang tidak terkira bagiku. Begitu bersyukurnya, aku tidak henti2nya mengucapkan alhamdulillah berkali-kali. Syukur…! aku bisa melanjtkan sekolah tanpa harus membayar dan bahkan mendapatkan fasilitas yang sangat lengkap dan memadai, dengan guru2 yang sangat profesional dan penuh pengalaman.

Aku tidak membayangkan nasibku, manakla aku tidak bisa masuk sekolah tersbut. Aku pasti tidak mungkin untuk melanjutkan sekolh karena keterbatasan ekonomi keluarga, karena ibu ku single parent dan sudah tidak mampu lagi mencari ekonomi seperti kalau ada bapak. mungkin begitulah, nasib anak2 yang kurang berutung secara ekonomi, satu2nya cara hanya berharap keajaiban dan kerja keras. Begitu senangnya, sampai kepala sekolah Mts ku ikut mengantarku ke Bandarlampung pada saat seleksi penerimaan di MAPK. Seorang kepala sekolah yang sangat tulus dan penuh dedikasi, dan dia tidak pernah untuk berharap untuk mendapatkan bayaran apalagi pengangkatan sebagai PNS. Suatu perjuangan yang yang tak terperikan, walaupun dia sendiri dan keluarganya hidup dalam keprihatinan. itulah Pak Boenary, kepala sekolah yang sangat sabar dan senang berbagi ilmu dengan siapa saja demi kebaikan dan perbaikan generasi masa mendatang.

Mataku semakin bersinar dan harapanku bisa keluar negeri semakin besar ketika aku mendapatkan surat penerimaan dari sekolah yang ditandatangani oleh pak Husni Salman. Hatiku senangnya bukan kepalang, ibuku saat dberitahu oleh kepala sekolahku tidak langsung senang menerima kabar tersebut, karena beliau berfikir darimana dia harus membiayai anak ragilnya tersebut. tapi setelah kepala sekolah ku menjelaskan bahwa aku lulus dan semua biaya sekolah gratis ibuku ikut tersenyum dan menitikan air mata. Dia sangat senang tapi juga terharu. Senang karena anak ragilnya bisa melanjutkan sekolah tanpa harus biaya. Terharu karena katidakmampuanya dan keterbatasannya untuk memberikan biaya sekolah, tidak menutup kesempatan untuk anak ragilnya melanjutkan studinya. Tentunya, Ibuku harus merelakan anaknya untuk berpisah lagi dengannya dalam jangka waktu yang cukup lama. Padahal aku dan ibuku baru berkumpul kembali selama empat tahun, yang sebelumnya aku hidup bersama orang lain untuk waktu yang cukup lama. Apakah ini memang takdirku untuk selalu jauh dengan orang tua? Berpetualang jauh…! Menelusur semesta…..! Mengejar mimpi……! Ya..h, begitulah aku harus kembali berpisah dengan ibu, demi untuk meraih ilmu. Di antar oleh doa ibu, aku berpamitan menuju sekolah baru, sekolah harapan, sekolah yang ku impikan.

Ku langkahkan kakiku dengan mantap dan penuh percaya diri menyusur jalan menuju ke ramaian kota bandar lampung. Mataku sekali-kali menengok ke belakang melihat desa dan kampungku yang ku tinggali selama ini. Tempat dimana mimpi-mimpiku tumbuh, dan pergulatanku dengan teman2 ngaji, belajar, dan bermain. Ku tinggalkan kembali desa dan kampungku yang penuh kenangan manis bersama orang tuaku.  Ku tatap arah jalan di depan yang tidak begitu halus memberiku semangat untuk meraih prestasi dengan penuh percaya diri. Harapan2 tumbuh berseliweran dalam otak untuk menata dan memperbaiki diri, penuh harap bisa mengubah takdir hidupku selama ini yang kurang begitu beruntung. Seorang anak janda tani miskin yang berharap jadi anak kantoran yang terhormat dan berpakaian selalu rapi dan wangi. Maklumlah, orang2 yang terpinggirkan dan lemah secara ekonomi dan social selalu membayangkan pegawai kantoran adalah elits dan sangat membanggakan.  

Saat orientasi pertamaku di sekolah baruku, MAPK, hatiku begitu gemuruh saat kepala sekolah menjelaskan  prospek ke depan lulusan MAPK dan kesempatan yang sangat luas untuk lanjut studi keluar negeri. Sekolah tersbut katanya berorientasi global dan berwawasan international. Sekolah tersebut walaupun fokusnya study Islam, tapi Islam yang tidak ketinggalan jaman, Islam yang berkemajuan. Bukan generasi Islam yang hidup kumuh, kudisan, sarungan dan berwawasn jumud. Oleh karenanya, dia menjelaskan, sekolah tersebut diset dengan kurikulum berstandar nasional  kombinasi kur Depag dan Diknas.  untuk memperkokoh wawasn internasional, siswa diwajibkan untuk menggunakan bahasa pengantar Inggris dan Arab. Inggris untuk pergaulan international, Arab diguakan untuk searching pengetahuan keislaman klasik yang semuanya terdokumentasikan dalam khazanah klasic.Orang Islam era sekarang menurutnya harus punya basic yang kuat tentang kilmuan klasik dan juga mempunyai wawasan global yang memadai. Semua itu kata kuncinya adalah kemampuan bahasa Arab dan Inggris yang baik. dengn kedua bahasa tersebut, dia menjelskan, “kamu semua akan bisa menjelajah dunia dan menjadi orang pentiing pada masa yang akan datang”.

Sekolah di MAPK sangat melelahkan tapi juga menyenangkan. melelahkan karena aku harus mulai bangun pagi pukul 04.00 dan berangkat ke masjid tuk shalat subuh, kemudian dilanjutkan dengan hafalan kosakata inggris, kemudian dilanjutkan dengan tutorial di kelas  sampai 06.15. kemudian MCK dan masuk seklah biasa 07.30 sampai 14.00. dilannjtkan tutorial sore jam 16.00-17.00. Shalat magrib berjamaah dilanjutkan muhadharah (pidato bahasa Arab/Inggris) sampai waktu isya, kemudian shalat jamaah. dilanjutkan makan malam, dan belajar klasical sampai jam 10.00. Tiap siklus waktu begitu terus tanpa henti, sehingga ada beberapa teman yang tidak kuat mengalami stress mental dan harus dipulangkan.

Di samping melelahkan, ada juga yang menyenangkan, karena aku bisa bergaul dengan teman2 yang berbeda suku, bahasa, latar belakang ekonomi, social, budaya. Disini, aku mulai belajar keragaman dan perbedaan. Disni pula aku mulai mengenal Indonesia yang beragam sesungguhnya. Disini tidak ada yang dibeda-bedakan, semuanya mendapatkan perlakuan sama. Adakah anaknya pejabat, petani miskin, pedagang, kongelemrat tidak ada yang diistimewakan. Semuanya berkompetisi ingin meraih yang terbaik. kompetisi yang fair. Semangatku untuk meraih yang terbaik tidak surut terus bergelora. Alhamdulillah pada semester pertama aku meraih rangking 2 di MAPK dan semester kedua, ketiga, keempat meraih rangking 1, dan pada semester lima dan enam  meraih rangking 2. Di samping prestasi  akademik aku juga ikut berpartisipasi dalam beberapa kompetisi, dan ternyata anak kampung ini juga bisa menunjukan kemmapuanya yang cukup signifikan. Aku pernah ikut lomba pidato bahasa Inggris dan juara ke 3, ikut lomba MTQ pernah dapat juara 2dan 1 se kota madya bandar lampung, juara 2 se Propinsi Lampung. pernah juga ikut cerdas cermat HAP Depag propinsi dan juara 1. Prestasi yang cukup mengesankan dari anak kampung yang sebelumnya belum pernah tahu namanya kota dan kemajuan. Kerja keras dan belajar tanpa henti adalah satu-satunya cara untuk mengejar ketertinggalan dari orang lain yang lebih maju. Pada saat di MAPK ini, aku betul-betul menggunkan waktuku untuk belajar dan belajar sampai2 otak ini tidak lagi bisa menampung lagi. tiada waktu untuk tidak membawa dan membaca buku. Semua buku2 yang merupakan paket bacaan aku baca, aku catat, aku rangkum…sehingga nyaris waktu tidur dan istirahat sangat sedikit sekali. tiap hari rata2 tidur paling banyak 5 jam tidak lebih. sehingga kemudian persoalan muncul di kelas, banyak anak2 yang ketiduran saat mata pelajaran berlangsung. Sehingga tidak jarang para guru yang ngajar kelas MAPK marah2 dan harus banyak strategi belajar yang digunakan sehingga tidak membosankan. bagi guru yang hanya modal ngoceh saja didepan kelas pasti dia akan ditinggal tidur oleh muridnya. Sehingga banyak guru tidak mempunya kreativitas pembelajaran yang baik, pasti tidak punya keberanian mengajar di kelas MAPK.

Pada saat belajar, yang aku ingat adalah “aku harus  bisa pergi ke Mesir atau Madinah” mewakili orang Indonesia belajar Islam di sana. Semangatku terus bergelora dan teman2 yang lain juga punya harapan yang sama. Untuk bisa pergi ke Mesir atau Madinah adalah suatu prestasi yang sangat luar biasa, karena kedua tempat tersebut mempunyai Institusi pendidikan tinggi yang sangat bergengsi dan berriputasi dunia untuk kesarjanaan ilmu2 keislaman. Alazhar adalah bukti nyata dari sebuah peradaban ilmu islam yang sangat prestisius dalam dunia Islamic akademik. bukti eksistensi alAzhar adalah Jamiah tertua yang ada sampai saat ini. Madinah memilki Mandinah University yang sangat kuat dalam ilmu keislaman walaupun Universitas tersebut baru berdiri pada abad modern.  Dan untuk bisa masuk ke dua universitas tersebut, calon mahasiswa harus mempunyai kompetensi yang memadai dalam bahasa Arab, ilmu keislaman, dan banyak hafalan al-Qur’an. Suatu syarat yang sangat sulit bagi calon mahasiswa Indonesia. Untuk mengejar itu, aku menggeber hafalan al-Qur’an ku dengan rutin setor hafalan kepada ustad Wahid dan ustadzah Murni, yang akhirnya menjadi tanteku. Pada saat menjelang lulus aku sudah bisa menghafal al-Qur’an lebih dari 5 Juz. Fikirku, ini adalah modal untuk bisa ke Al-Azhar atau Madinah. Suatu harapan yang besar dari anak kampung sepertiku.

Saat kelulusan tiba, aku sangat sedih sekali karena mimpiku ke luar negeri dan harapan lanjut kuliah  terancam gagal. Ini terjadi karena ada perubahan kebijakan tidak ada lagi pengiriman mahasiswa ke luar negeri Mesir/Madinah. Kalau mau ke luar negeri harus biaya sendiri dan pemerintah tidak menanggung untuk itu. Perubahan situasi ini membuatku berfikir keras untuk mencari jalan bisa lanjut kuliah, walaupun di dalam negeri. Meminta orang tua sudah tidak mungkin lagi, dan cara satu-satunya adalah mandiri dengan berbagai cara ditempuh yang penting halal. Waktu liburan yang panjang, aku pergunaan untuk mencari uang untuk biaya kuliah. Aku memualai usaha dengan jualan baju ke Lampung Barat dengan pinjam modal dari ustadku. Dan usahaku ini cukup berhasil dan aku bisa mengumpulkan uang lebih dari 1 juta rupiah dalam waktu 3 minggu. suatu nilai yang cukup signifikan pada ukuran saat itu. Setelah dari Lampung Barat, aku cari jalan lain yang lebih propectif untuk mengumpulkan uang, dan aku ikut bapak temanku menyediakan bibit kambing untuk proyek IDT (Inpres Desa Tertinggal) ratusan bahkan ribuan kambing aku cari dan aku kumpulkan dari para peternak dan pedagang, kemudian aku kirim dan jual dalam proyek tersebut. Alhamdulillah, aku mendapatkan keuntungan lebih dari 1,5 juta dalam tempo dua minggu, tanpa modal uang sedikitpun.

Usaha dan kerja keras mencari modal kuliah ini, sampai2 aku tidak ikut hadir dalam kegiatan acara pelepasan lulusan MAN 1 Bandar Lampung, suatu moment yang sangat mengharukan dan istimewa bagi para siswa lulusan. Sangat sedih bagiku tidak bisa hadir dalam moment tersebut, tapi kesedihan itu terobati dengan aku bisa mengumpulkan uang untuk bisa lanjut kuliah di perguruan tinggi. Suatu cita2 yang terlalu besar bagi anak kampung seperti ku. Dan terlalu nekat untuk tetap lanjut kuliah walau hanya di dalam negeri. Karena kuliah pada waktu itu adalah terlalu mewah dan hanya orang2 yang berduit saja yang bisa melakukan itu. Sementara itu, aku hanya anak petani miskin yang tidak punya sepeser pun uang untuk itu. Nekad..dan hanya nekad, aku tidak pernah berfikir akan kesulitan kemudian.Yang aku pikirkan adalah aku harus kuliah dan cari jaln untuk bisa kuliah. Semangat tersebut terus menyala dalam hatiku walaupun aku hanya membawa uang pas dari hasil usahaku jualan pakaian dan kambing di Kampung.

Dengan bekal pas2an tersebut aku berangkat menuju Jogja, suatu kota idaman ku tuk lanjukan studi. Aku pilih jogja karena katanya jogja merupakan kota pelajar dan biaya hidup tidak terlalu tinggi. Di samping itu, kharisma IAIN Sunan kali jaga telah mengikatku untuk menimba ilmu di sana. karena IAIN Joga sudah sangat terkenal sebagai IAIN tertua dan semua sarjana keislaman terkenl lahir dari kawah candradimukanya IAIN Kalijaga. Aku berangkat dengan temanku Syamsul Bahri. Dia juga sedang mencari tempat setudi yang tepat. Dan pilihan akhirnya dia jatuhkan pilihan di LIPIA Jakarta setelah berkeliling sampai ke Jawa tengah melihat2 beberapa perguruan tinggi termasuk IAIN Walisango. Sementara dia berhenti di Solo, aku lanjutkan perjalananku sampai ke Jogja tujuan harapan masadepanku. Aku lihat IAIN yang bercat putih dgn bangunan tua menambah angker wibawa perguruan tinggi Islam yang kredibel. Aku tersenyum dan harapun untuk kuliah di dalamnya semakin menggebu. Aku di IAIN ternyata tidak sendirian, ternyata banyak teman2ku yang semasa SLA juga mau kuliah di sini. Aku semakin senang, berarti kalau aku kekurangan uang ada yang bisa memberikan pinjam uang, pikirku. suatu pemikiran inferior anak kampung yang miskin untuk bisa hidup di kota.

Pada saat sampai di jogja, yang aku fikirkan adalah menemukan teman yang berasal dari lampung. alasanya sederhana yaitu untuk numpang tinggal sementara dan sampai menemukan kost yang murah.Dan akhirnya aku bertemu dengn teman dari Lampung Mas Muchlis dan akhirnya aku dibantu untuk mendapatkan kost yang murah, bahkan sangat murah sekali. Bahkan untuk kamar yang sangat murah tersebut masih harus dibagi dengan tiga orang teman. cara berfikir ekonomi, inilah yang aku gunakan untuk bisa bertahan hidup di jogjakarta. Tinggal bersama di kamar kecil membuatku tidak nyaman, dan akhirnya aku cari cara untuk menemukan tempat yang bagus tapi murah bahkan mungkin gratis. Akhirnya, tiga bulan kemudian aku menemjukan tempat yang cukup nyaman walaupun dengan konsekuensi tanggung jawab cukup besar: Masjid. Gratis tapi haru memikul tanggungjawab mengurusi jamaah dan kegiatan anak2 yang sangat padat. sehingga butuh extra waktu untuk memenage belajar dengan baik, kalau tidak bisa2 kuliah tidak lulus2, bisa2 mendapatkan gelar MA (mahasiswa Abadi).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: